Kemunculan virus corona membuat gempar seluruh penduduk jagat raya. Bagaimana tidak. Sejak kasus pertama di Wuhan Cina hingga saat ini telah ada jutaan orang di dunia yang terkonfirmasi positif COVID-19. Virus yang menyerang organ pernapasan ini begitu ditakuti masyarakat dari seluruh belahan dunia. Salah satu penyebab utama ditakuti karena belum adanya obat dan vaksin untuk mencegah infeksi dari virus Covid-19 tersebut.

Hingga saat ini berbagai perusahaan farmasi seluruh penjuru dunia berlomba mengembangkan vaksin covid. Pengembangan vaksin covid telah dimulai semenjak pakar biologi molekuler di Cina membagikan urutan genetik virus ke dalam data base online bulan Januari 2020 lalu.

Perusahaan yang mengembangkan vaksin COVID-19 diantaranya ada Inovio Pharmaceuticals Inc. dan Moderna Inc. Kedua perusahaan biofarmasi kelas kakap ini menerangkan bahwa vaksin yang telah dikembangkan terlebih dulu akan diuji klinis pada hewan. Uji coba pada hewan tersebut akan dilakukan dalam kurun waktu satu bulan.

Perusahaan biofarmasi di atas menggunakan teknologi vaksin yang mutakhir. Dilakukan berdasar pada urutan DNA atau messenger RNA secara sepesifik dari virus COVID-19. Protein yang digunakan dalam vaksin hanya menggunakan sebagian kecil dari virus 2019-nCoV. Sehingga efek samping bisa bisa timbul tidak begitu signifikan.

Vaksin Virus COVID-19 amankah digunakan untuk manusia?

Berdasarkan hasil uji coba keamanan dan efektivitas vaksin pada manusia, laporan penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada efek samping yang serius dari subjek yang disuntikkan vaksin. Hanya saja setengah dari subjek penelitian mengalami efek samping yang ringan. Efek sampingnya berupa rasa lelah pada tubuh, sakit kepala, kedinginan, dan rasa sakit pada area bekas injeksi vaksin. Dari seluruh relawan subjek penelitian, dihasilkan antibodi terhadap SARS-CoV-2.

Antibodi yang dihasilkan pada temuan di subjek penelitian memiliki kemiripan dengan antibodi alami pada orang yang terinfeksi covid secara alami. Vaksin COVID 19 ini menghasilkan antibodi yang tingkat efektivitasnya setara dengan antibodi pasien yang sembuh dari infeksi COVID-19.

Produk vaksin yang dikembangkan oleh kedua perusahaan biofarmasi di atas perlu melakukan dua kali dosis vaksin. Pada penggunaan dosis kedua, setelah disuntikkan dosis kedua muncul reaksi yang lebih kuat. Perlu adanya sistem kekebalan baru dengan dosis pertama untuk selanjutnya merespon vaksin kedua dengan lebih kuat.

Tak hanya vaksin, pencegahan perlu tetap dilakukan

Banyak ilmuwan pengembang vaksin mengatakan tidak mengetahui seberapa lama respon imun dari vaksin guna melindungi seseorang dari terpaparnya virus corona. Para subjek penelitian akan tetap dipantau selama satu tahun untuk mencari tahu respon imun. Para peneliti pengembang vaksin sangat berhati-hati dalam penerapan vaksin bagi manusia.

Uji coba vaksin harus benar-benar aman digunakan pada manusia. Apabila menyebabkan efek samping yang lebih besar dari penyakit yang timbul karena virus menjadi tidak berguna. Dan itu bisa membahayakan bagi penerima vaksin. Terlebih bagi mereka yang memiliki penyakit degeneratif.

Sembari menunggu vaksin benar-benar telah teruji secara klinis, maka melakukan pencegahan penyebaran virus corona harus tetap dilakukan. Menggunakan masker dan menghindari keramaian bisa diterapkan sampai produksi vaksin secara massal dilakukan pemerintah. Tak hanya itu, menerapkan gaya hidup sehat dan mencuci tangan secara benar juga tetap harus diterapkan.

Apabila anda merasakan gejala penyakit, anda bisa berkonsultasi secara langsung dengan dokter di Halodoc. Di aplikasi Halodoc ini anda bisa memanfaatkan fitur chat sehingga tidak perlu keluar rumah untuk memperoleh layanan kesehatan.